Mission Failed


mission-failed

Do Kyungsoo . Kim Sohyun . Kim Aehyun (OC)

Romance . School Life . Family

.

.

Derap langkah santai terayun menyisir jalan sepi di jam delapan malam. Kiri kanannya hanya ada pepohonan dan rumah-rumah yang sinar lampunya telah meredup, pintu-pintunya pun sudah tertutup rapat. Sohyun mencoba mengusir sunyi dengan menggumamkan beberapa lagu yang sekiranya ia hafal, sepanjang jalan dari halte tidak ada yang membuatnya mengalihkan atensi dari jalanan yang begitu lengang di Kamis malam ini—sebenarnya setiap hari juga begini. Tidak sebelum suara langkah lain terdeteksi oleh indra pendengarannya.

Sohyun menggelengkan kepala beberapa kali ketika ada keinginan untuk menoleh ke belakang. Lampu-lampu jalan yang ditaruh dengan jarak sepuluh meter setiap tiang tidak begitu membantu suasana menjadi lebih cerah, apalagi saat ini bulan tidak sedang menunjukkan presensinya. Sungguh, menambah ngeri perasaan gadis berponi itu jika ia nekat menilik ke belakang.

Gerak kakinya sudah tidak sebebas tadi, agak ia pelankan, siapa tahu seseorang—entah siapa—di belakangnya mendahului. Tapi nahas, sudah beberapa meter Sohyun berjalan, justru ia merasa hanya sendirian. Padahal … Suara derap langkah yang mengikutinya tadi begitu jelas, tapi tiba-tiba saja menghilang seakan ditelan kesunyian malam. Lantas ke mana?

Sohyun tidak takut pada apa pun, tapi tidak jika itu berbau mistis. Ia akan langsung meringkuk ketakutan jika sampai ada yang membahas hal-hal demikian dengan sengaja di depan wajahnya. Catatan, dia hanya merasa ngeri ketika ditakut-takuti, jika tidak ya dia baik-baik saja. Dan untuk kasus yang satu ini, entah kenapa ia jadi teringat dengan cerita Minah—yang tak sengaja ia dengar dan ikut nimbrung begitu saja—di kelas tadi, tentang gadis yang diperkosa dan dibunuh ketika pulang sekolah pada saat gelap menyelimuti. Seperti dia saat ini. Oh Tuhan! Seharusnya ia sadar diri jika akan berimbas parno seperti sekarang.

Kaki jenjangnya berhenti bergerak, ia dengarkan dengan seksama suara di sekitarnya, tapi justru hanya embusan angin yang menyapa tengkuk. Benar-benar hanya sunyi yang melingkupi. Setengah mati Sohyun memendam rasa takutnya, tapi justru gigitan bibir yang menjadi reaksi bertambahnya rasa gelisah. Ada perasaan menyesal lantaran tidak menerima tawaran Minho yang dengan senang hati hendak mengantar sampai tempat tinggalnya.

Jika benar nasibnya akan sama dengan gadis yang tadi Minah kisahkan, ini adalah salah Pak Han karena memberi tugas begitu banyak dan mengharuskan kelompoknya pulang begitu larut. Lagi-lagi Sohyun menggeleng. Tidak, seharusnya ia berpikir positif saja. Siapa tahu orang asing di belakang punggungnya—tadi—memang sudah berbelok ke salah satu rumah.

Keberanian coba ia kumpulkan lagi, langkahnya ia percepat. Rumahnya tinggal beberapa puluh meter di depan, tapi rasanya masih berkilometer jarak yang harus ia tempuh.

Lagi, suara itu terdengar …. Seketika pikiran positif lenyap dari kepalanya. Keringat dingin terasa membasahi dahi mulus Sohyun yang tetutup poni, di dalam hati ia menjerit ketakutan. Tuhan, apa hidupku akan berakhir di sini?

Sohyun mengambil ancang-ancang untuk berlari, tapi niatnya segera tertunda, ada lengan yang menyentuh pundaknya, dan membalik tubuhnya sampai 180 derajat. Segala macam pikiran buruk menyeruak begitu saja, berimbas pembelaan verbal mengaung tak terkendali.

“Kumohon jangan sakiti aku, Tuan.”

“Umurku masih tujuh belas tahun.”

“Aku juga belum menikah. Kyungsoo Oppa akan sedih nanti.”

“Tolong Tuan yang baik hati, kasihani aku.”

“Aku juga masih memiliki dosa pada orang tuaku.”

“Aehyun akan menangis jika aku tak pulang malam ini.”

“Kumohon, Tuan.”

Rentetan kalimat bernada memohon keluar begitu saja dari bibir plump Sohyun, bahkan terdengar nyaris menangis. Tubuhnya bergetar hebat, matanya tertutup sangat rapat, dan napasnya terengah—padahal belum jadi berlari.

Sohyun tidak bisa berpikir jernih lagi—kacau, tapi di dalam hati, gadis berponi itu merapalkan permohonan pada Ia yang di atas sana. Berharap ada Spiderman, Batman atau siapa pun pahlawan super lainnya berbaik hati datang untuk menolong dirinya yang malang. Dan …

“Sohyun …”

Suara berat khas laki-laki disertai kekehan menginterupsi rungu Sohyun yang sejak tadi terasa berdengung. Ingat benar ia dengan suara siapa gerangan di hadapannya sekarang. Tidak salah lagi, laki-laki bermata bulat itu yang mengerjainya. Dengan keyakinan yang mendominasi, ia membuka matanya, tidak lupa ia lenyapkan sorot ketakutan dan berganti dengan tatapan yang begitu intens kepada si pelaku.

“KYUNGSOO!!! Kau membuatku hampir mati, kau tahu!”

Dengan pukulan telak di bahu depan lelaki yang ternyata adalah Kyungsoo, Sohyun meluapkan rasa jengkel—takut, sebenarnya—akibat dikerjai. Perasaan ngeri itu membuat Sohyun lupa akan tata krama, tidak seharusnya ia memanggil Kyungsoo tanpa embel-embel apa pun di belakang namanya. Tapi jelas Kyungsoo paham dan hanya bisa tertawa menanggapinya. Wajah jengkel Sohyun benar-benar menggemaskan.

“HAHAHA. Kau takut, Nona?” Kyungsoo melanjutkan aksinya menggodai Sohyun yang hanya dibalas dengan raut kesal oleh si gadis. Demi wajah tampannya, belum pernah ia melihat wajah Sohyun setakut tadi, bahkan kejadian di hutan tempo dulu tidak separah ini. Well, Kyungsoo jelas tahu apa kelemahan Sohyun dan dia sengaja melakukan itu.

“Makanya jangan sok berani dengan pulang sendirian tanpa menghubungiku.”

Kyungsoo mengarahkan telunjuknya pada pangkal hidung mungil Sohyun, tapi setelah itu ia kerahkan jari-jari tangan kanannya untuk mengelus pipi gadis di hadapannya dan berakhir dengan menyelipkan sebagian helai rambut si gadis di belakang telinga. Kyungsoo menelengkan kepalanya sedikit, membiarkan bibirnya mengembangkan senyum. Berhasil, Sohyun ikut menarik ujung bibirnya, meski tidak maksimal.

“Ponselku mati, Oppa. Baterainya habis.”

“Untung instingku kuat.”

Sohyun mendesis geli dengan pernyataan Kyungsoo. Tidak berniat menanggapi, ia berbalik arah dan meninggalkan Kyungsoo yang masih saja tersenyum menang. Selain itu, ia ingin menyembunyikan rona merah di pipi dari tangkapan kedua netra Kyungsoo.

Suara langkah kaki mereka terdengar lagi, menyusuri jalan beraspal yang beralih menanjak. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai dan mengakhiri perjalanan malam yang sempat menjadi penuh kengerian—bagi Sohyun.

“Apa maksudmu, aku akan sedih karena kau belum menikah?” Kyungsoo buka suara, ia teringat salah satu kalimat pembelaan Sohyun yang menggebu tadi.

“Memangnya Oppa tidak sedih jika aku keburu meninggal sebelum menikah dengan Oppa, huh?”

“Menikah? Denganku?”

Kepala Kyungsoo menoleh ke arah Sohyun, memberikan tatapan terkejut sekaligus senyum jahil yang kentara.

“Lupakan. Sudah sampai, aku masuk.”

Mati-matian Sohyun mengontrol degup jantungnya yang tiba-tiba sulit dikendalikan. Pertanyaan Kyungsoo tidak patut untuk dijawab secara gamblang. Jelas-jelas jawabannya adalah ‘iya’, bukan?

Ya, meski bukan untuk waktu dekat ini.

“Sohyun-ie marah?” Tangan Kyungsoo memegang sebelah pundak Sohyun, dan tangan yang lain membukakan gerbang, sedikit memaksa Sohyun untuk masuk ke dalam. “Ya sudah, sana masuk!” Tapi entah dari mana embusan angin berasal, Kyungsoo seperti mendapat bisikan lewat presensinya. Lagi, dengan perlahan tubuh Sohyun ia putar hingga mengahadap ke arahnya. Mata Sohyun seolah berkata: ada apa? Dan dijawab oleh Kyungsoo dengan sebuah gerakan yang tidak terduga.

Baik Kyungsoo maupun Sohyun, netra mereka saling tertutup, membiarkan ruang di antara keduanya menyempit. Sohyun dapat merasakan begitu nyata napas Kyungsoo berhembus menyapu sebagian wajahnya. Begitu dekat, sampai …

“Auh!” Kyungsoo mengaduh, ada tangan lain yang mencubit kakinya dengan amat keras, membuat aksi ‘tak terduga’nya terhenti. Kelopak mata Sohyun seketika itu terbuka, dan berhasil menangkap sosok lain yang ternyata adiknya—Aehyun. Dengan gugup ia memilin ujung seragam, takut jika Aehyun sempat melihat dan berpikiran yang tidak seharusnya.

YA! Kau!” Itu suara teriakan tertahan Kyungsoo setelah mengetahui bahwa pelakuya adalah bocah berusia sebelas tahun yang selama ini menjadi rivalnya dalam mendapatkan perhatian Sohyun.

“Apa yang Oppa burung hantu lakukan pada Eonni-ku, huh?” Mata Aehyun menyorot nyalang pada Kyungsoo, dan jangan lupakan kedua tangannya yang berkacak pinggang seolah menantang.

“A—aku tidak melakukan apa pun.” Sadar dengan kesalahannya, Kyungsoo berucap kikuk sembari mengelus tengkuk. Namun nada bicaranya tetaplah menyiratkan pembelaan.

Eonni, kau tidak apa-apa, ‘kan? Kenapa Eonni diam saja? Oppa burung hantu ini mau memakanmu tadi.”

Jujur, Sohyun agak lega karena ternyata Aehyun menyimpulkan lain atas apa yang terjadi di antaranya dan Kyungsoo.

“Benarkah? Ah, iya, seharusnya tadi Eonni melawan. Maaf, Aehyun sayang. Baiklah, sebaiknya kita masuk. Biarkan Kyungsoo Oppa pulang, oke?”

Tidak ada yang bisa Sohyun lakukan selain mencoba mengalihkan perhatian Aehyun dan mengamankan Kyungsoo. Mereka berdua seperti anjing dan kucing jika bertemu, dan saat ini bukan waktu yang tepat untuk membiarkan keduanya adu mulut. Ini sudah sangat larut, omong-omong.

Sohyun agak berjongkok dan kedua tangannya mendekap bahu Aehyun, dengan halus mendorong gadis kecil itu untuk meninggalkan tempat di mana sekarang mereka berpijak.

“Ta—tapi Eonni? Kita harus memberi pelajaran padanya!”

“Tidak perlu, dia tidak bermaksud apa-apa kok tadi. Percaya pada Eonni. Ayo masuk.”

Tangan kanan Sohyun mengibas, menyuruh Kyungsoo cepat melangkahkan kaki dari depan rumahnya. Lelaki itu membalas dengan gerakan tangan melambai lunglai, serta sorot mata yang menyiratkan kemalasan.

Aish! Bocah pucat itu mengganggu saja. Padahal ‘kan sedikit lagi.” Cecar Kyungsoo penuh sebal setelah kedua kakak beradik itu berhasil tertelan pintu gerbang.

 

—END—

2 thoughts on “Mission Failed

  1. HALO ANEEE x)) akhirnya ke sini jugaa hehe. maaf yaaah padahal udah janji dari kapan mau baca, malah sekarang baru mampir huhuhu. padahal kamu udah baca-baca di blog, maafkeuuuun :” anw seperti yang aku janjiin di japrian, mau koreksi redaksional dulu, boleh? jangan marah ya, bikos ini agak banyak hehehehe.

    tadi ada typo “teranyun” maksudnya “terayun” kah?
    hapal harusnya hafal
    tadi ada kata “lenggang”. apa maksudnya “lengang”? bikos kalo di kbbi, lenggang itu artinya keadaan berhenti sebentar, keadaan tidak sibuk. kalo lengang artinya sunyi sepi, tidak ramai.
    kamis malam. kamisnya pake kapital yaa, soalnya nama hari
    “setiap tiang tidak begitu” spasi dobel hehe
    typo di “di belakangannya”
    elipsis di: elipsis di “Padahal… Suara derap …” penulisan elipsis itu kalo di tengah gini: “blabla … blabla.” kalo di akhir kalimat: “blabla ….” ada di page Start di writers’ secrets entar main ke sana yaa hehe.
    hembusan harusnya embusan
    nulisnya enakan 180 derajat deh kayaknya hehe
    orangtuaku harusnya orang tuaku
    ada typo lagi hehe. “mengintrupsi” harusnya menginterupsi
    melenggang ngga ada di kbbi btw hehe. bisa diganti pake kata lain yaa x)
    typo di “pelakuya”
    tadi nulis Eonniku kurang tanda (-) soale Eonni-nya kan italic, si ku-nya engga hehe.
    anee seragamin yaa nulisnya mau pake eonnie atau eonni. soale malah ga rapi kalo beda-beda
    ngomong-ngomong harusnya omong-omong
    aish itu bukannya diitalic yah? hehe cmiiw aku jarang pake kata-kata itu soale hehe

    (MAAP KEBANYAKAN KOREKSI HUHUHU) as I usually said, bukan mau sok menggurui yah, tapi tapi daripada ke sana-sananya salah terus? huhuhu.

    anw, aku baca ini abis ngoreksi fall dan baca disappear, lumayan banyak yang meningkat hehehe. kalimat-kalimatnya sekarang lebih enak, kalo dibanding yang fall. tbh yang fall banyak yang rancu dan bertele-tele hihi. di sini masih ada beberapa kata yang sebenernya bisa dipangkas, but nggak sebanyak yang dulu kok. dan aku cuman ngasih edit redaksional aja yah, bikos kalo digabung sama kalimat dll ntar malah bikin fiksi multichapter di komen boks xD DAN … INI KYUNGSOO BANDEL YHA ANAK ORANG DIJAHATIN IH. kasin oy, udah ketakutan. dan akhirnya dicubit HAHAHAHA makanya bruh jangan iseng-seng ._. anw anee, pabila ada yang kurang jelas atau akunya yang salah ngoreksi kita bahas lewat japri aja yaah hehe. ini udah panjang banget btw komenku doang xD

    sip! semangat terus yaaah! jangan males-males ngebeta tulisan sebelum publish hayoooo. jangan males buka kbbi xD hehe (ceritanya mau galak). keep writing yah aneee ❤

    Like

    • haiii kak fikaa … maafkeun ini aku telat banget balesnya :”( tapi habis baca review kak fika waktu itu langsung kubenerin semua kok. ehehehe makasiihh kakak detail banget meski baru redaksional. mana spasi double juga ketangkep basah. hahaha

      btw, aku juga blm baca BROTHER lho :”( tunggu akuuuu. hihi

      dan untuk sarannya, oke sipp!! ke depannya semoga typo-ku berkurang dan lebih gagas soal kata baku. big thanks kakak ^^ keep writing, too 🙂

      Like

Talk To Me

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s